Kamis, 02 Juli 2009

Nabi Muhammad SAW Model Yang Ideal (2/2).

Sangatlah pantas kalau Michael H Hart, seorang penulis beografi ternama asal Amerika menulis buku "The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in Histori/Seratus Tokoh Dunia yang Paling Perpengaruh." Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW dalam urutan pertama. Diantara argumen yang dikemukakan adalah Muhammad terlahir dan tumbuh sebagai sebagai yatim piatu dan miskin.

Namun dia berhasil mewariskan kekuasaan politik, peradaban dan mampu mengubah padang pasir tandus dengan tradisi sosialnya yang rusak menjadi pusat dan sumber pencerahan dunia yang gerakan serta pengikutnya masih terus berkembang sampai sekarang.

Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang paling cemerlang dalam sejarah bangsa Arab. Dalam dirinya terhimpun berbagai sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun, baik pribadi sebagai seorang pembawa risalah kebenaran, panglima perang, pimpinan negara, ekonom terkemuka, orator ulung, guru favorit bagi sahabatnya atau murid pembelajar dari Dzat Yang Maha Alim, berilmu.

<-- Sebelum

Sriwijaya Post/Opini.

Rabu, 01 Juli 2009

Nabi Muhammad SAW Model Yang Ideal (1/2).

Oleh : Masagus A Fauzan SQ S.Sos.I Pengurus Yayasan Kiai Marogan

Sosok Nabi Muhammad SAW sangat gamblang dalam sorotan sejarah. Tidak ada bagian hidupnya yang remang-remang sebagaimana Nabi terdahulu atau tokoh dunia lainnya. Banyak orang tertarik pada ajaran beliau karena pribadinya yang menarik. Tutur katanya sulit ditolak akal sehat dan hatinya yang jujur. Ia hanya berkata yang benar dan bila ia berjanji ia selalu memenuhinya. Dan ia memuji orang jujur dan yang memenuhi janji.

Bahkan di mata penduduk Quraisy sendiri, sejak remaja Nabi Muhammad SAW sudah mereka kenal sebagai sosok remaja Al-Amin (jujur, dapat dipercaya). Tatkala pembesar Quraisy akan memasang Hajarul Aswad ditempatnya terjadi pertengkaran untuk menentukan klan mana yang akan mendapatkan kehormatan memindahkannya.

Akhirnya mereka sepakat menyerahkan keputusan itu kepada Muhammad karena mereka telah mengenalnya sebagai seorang yang bijak dan adil. Muhammad lalu mengambil kain, meletakkan batu itu diatasnya dan mengajak semua anggota klan memegang pinggir kain itu, mengangkatnya bersama-sama ke pojok timur sampai ke "lobang" yang disiapkan. Setelah itu ia memegang batu itu dan memasukkan ketempatnya.

Tatkala ia menerima wahyu pada umur 40 tahun, wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah Allah agar manusia membaca dan menulis. Di bagian lain ia membaca ia membacakan ayat Al-Qur'an yang menegur manusia agar berfikir, berkontemplasi dan mengamati alam ciptaan-Nya. Kemudian Allah SWT mengagungkan manusia sebagai makhluk yang berakal dan menegurnya dengan kata-kata "Hai pemilik akal." Di bagian lain Allah mengatakan bahwa hanya orang berilmulah yang benar-benar bertakwa kepada-Nya.

Rasulullah SAW juga menganjurkan ummatnya agar mengejar ilmu walau harus menyusul sampai ke negeri Cina sekalipun. Dalam kehidupan rumah tangga cara hidupnya bersahaja. Beliau membantu pekerjaan rumah, menisik baju, mendandani sandal, menimba air, mencuci pakaian atau memerah susu kambing sembari tetap menjadi penggembala. Pribadi beliau mampu menaklukkan hati kawan dengan cinta kasih dan kelembutan budi serta menggentarkan lawan karena semangat dan strategi tempurnya yang sangat tinggi dan piawai.

Selain seorang Rasul, beliau adalah model ideal bagi siapa saja, termasuk orang yang ingin membina persahabatan, pendidik atau belajar. Menurut M Quraish Shihab, Nabi SAW dipanggil dengan sapaan sahabat di dalam surah An-Najm ayat 2, untuk mengingatkan kepada bahwa Nabi SAW adalah sahabat kita yang sejati. Yang disaat akhir sakaratul mautnya masih memikirkan nasib ummatnya dengan bisikkan ; ummati (ummatku) ummati (ummatku). Kendati mereka baru lahir di dunia ribuan tahun sesudahnya.

Salah satu bagian dari misi rahmat beliau adalah menjadi sahabat yang paling baik bagi setiap setiap orang. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang sangat melayani hak-hak sahabatnya dengan perkataan dan perbuatan. Beliau menjaga mulutnya dari perkataan yang menyakitkan sahabatnya, beliau menjaga rahasia para sahabatnya, beliau tidak memanggil para sahabat dengan panggilan yang mereka tidak sukai, beliau membantu meringankan beban sahabatnya dan sebagainya.

Rasulullah SAW di utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Dari diri beliau memancar kasih sayang yang akan dirasakan oleh semua, baik manusia, hewan, tumbuhan maupun semesta alam, baik yang mengenal beliau langsung maupun tidak langsung, baik pada zaman ketika beliau hidup maupun zaman sekarang dan hingga akhir zaman.

Melalui ayat-ayat Al-Qur'an beliau menyampaikan bahwa berbagai suku dan bangsa, lidah dan warna kulit diciptakan untuk saling kenal dan merupakan agen persahabatan. Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Di satu kesempatan dalam perjalanan haji beliau berkata orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab. Ummat manusia adalah ummat yang satu.

Suku-suku yang saling membunuh selama ribuan tahun telah bergabung dalam agama perdamaian, keselamatan dan cinta kasih. Dengan di dahului Al-Qur'an yang dibawanya, ditulislah ratusan ribu buku dalam segala bidang ilmu di tengah bangsa yang selama ribuan tahun tidak pernah menulis dan membaca sebuah buku apapun.

Lanjut -->

Jumat, 29 Mei 2009

Meneladani Allah Yang Maha Luas.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh: K. H. Abdullah Gymnastiar.

Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita. Al-Waasi' adalah satu sifat Allah yang tercantum dalam Asma'ul Husna, yang artinya Allah Yang Maha Luas. Kata Al-Waasi' tersusun dari huruf Wau, Syin, dan 'Ain. Setiap kata yang tersusun dari huruf-huruf ini menjadi antonim dari sempit atau sulit. Dari sini lahir makna-makna seperti "kaya," "mampu," "luas," "meliputi," "langkah panjang," dan sebagainya.

Allah Adalah Dzat Yang Maha Luas. Luasnya kekuasaan Allah sungguh tidak terbatas, meliputi semua yang ada di langit dan di bumi. Allah Maha Luas Keagungan-Nya. Sehingga Ia kuasa memuliakan siapa saja yang Ia kehendaki tanpa berkurang kemuliaan-Nya. Allah Maha Luas rezeki-Nya, sehingga Ia mampu memberikan karunia kepada semua makhluk tanpa berkurang sedikitpun kekayaan-Nya. Allah Maha Luas ilmu-Nya, sehingga Ia mengetahui segala sesuatu tentang ciptaan-Nya sampai hal sekecil-kecilnya. Ia mengetahui lintasan hati manusia. Ia mengetahui jalannya seekor semut hitam yang merayap di batu hitam saat tengah malam yang kelam.

Ternyata, luas-Nya Allah itu berbeda dengan luasnya manusia. Luasnya dalam pandangan manusia selalu di batasi ukuran. Lapangan sepakbola itu luas, namun bisa dihitung dalam meter. Seorang profesor pasti memiliki ilmu yang luas, namun luasnya ilmu profesor pasti berbatas dan hanya pada satu segi. Luasnya dalam pandangan Allah tidak dibatasi ukuran atau dimensi waktu. Ia "Laitsa kamitslihi syai'un; tidak bisa di serupai makhluk." Intinya, segala sesuatu yang ada dialam semesta ini ada dalam genggaman Allah. Allah mengetahui segala sesuatu di alam ini.

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat Allah ini? Kita layak meniru sifat Allah ini dengan meluaskan ilmu, pengetahuan, dan wawasan dengan banyak menyimak, membaca dan bergaul dengan para ulama. Makin luas ilmu kita, akan makin bijak pula kita, makin mudah menghadapi hidup, dan makin paham pula kita akan arah hidup. Keluasan ilmu dan pengetahuan akan memudahkan kita menyikapi masalah dengan cara tepat. Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu, maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

Dengan meneladani sifat Al-Waasi' ini, kita pun harus belajar mengubah sudut pandang kita dalam hidup. Jangan memandang harta diatas segalanya. Harta memang rizki dari Allah, tapi itu adalah tingkatan yang paling rendah. Kekayaan ilmu, kekayaan hati yang bersumber dari kekayaan iman jauh lebih tinggi di atas harta. Karena itu, kita jangan bangga dengan sesuatu yang rendah. Kita harus memiliki keluasan hati. Suasana hati akan menentukan bahagia tidaknya hidup kita. Sehingga kita harus melatihnya agar senantiasa lapang.

Berlatih untuk tidak mudah tersinggung, tidak mendramatisir masalah, mudah memaafkan, dan menyadari bahwa yang dilakukan orang lain tidak akan selalu sesuai dengan kehendak kita, adalah sebagian cara untuk mendapatkan kelapangan hati. Makin luas sebuah lapangan, makin sulit terjadi gesekkan, ilustrasinya, dilapangan yang luas kita tidak takut dengan seekor tikus, kecoa, atau ular. Namun, akan beda rasanya jika kita bersama hewan-hewan tersebut di kamar kecil. Rumusnya "2B2L" dapat pula dijadikan formula untuk menciptakan keluasan hati, terutama saat bergaul dengan orang lain. "B" pertama bijak terhadap kekurangan dan kesalahan, "B" kedua adalah berani mengakui kelebihan jasa orang lain. "L" pertama adalah melupakan jasa atau kebaikan diri. Dan "L" kedua adalah mampu melihat kekurangan dan kesalahan diri. "Wallahu a'lam."

Rabu, 25 Februari 2009

Kirimlah Hadiah & Jauhi Perdebatan.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Nabi Muhammad SAW, sudah mengisyaratkan bahwa berkiriman itu akan menambah rasa sayang dam memang kenyataannyapun demikian. Bila ada yang berkirim sesuatu yang bermanfaat bagi kita, pada umumnya akan senang hati dan merasa hutang budi, cenderung lebih memaafkan dan mempererat hubungan. Oleh karena itu, kita harus memiliki program mengadaan dana untuk hadiah kepada orang tua, tetangga, kawan dekat, dan siapapun yang kita harapkan dapat bersinergi dalam ukhuwah ini. Tentu saja semuanya ini harus sangat terjaga, keikhlasannya. Biasakanlah setiap kali memiliki makanan, tetanggapun ikut menikmatinya. Jauh sangat lebih baik kita makan hanya separuh dari makanan sendiri dan sebagian yang lain dinikmati saudara seiman lainnya dari pada kenyang sendiri dan orang lain tak mendapatkan apapun.

Jujur saja sebetulnya perdebatan yang banyak terjadi tampaknya bukan sedang mencari kebenaran tapi lebih dekat kepada mencari kemenangan pendapatnya sendiri, hal ini tampak dari cara dan bentuk percakapannya yang lebih menjurus pada berbantah-bantahan secara emosi, kata yang saling menyerang dan bau permusuhan saling menyudutkan, jauh dari cara kajian ilmiah yang penuh etika. Maka sekiranya kiata ada dalam situasi yang tak sehat ini menghindar dari berdebat bukanlah suatu tindakan menghindar dari kebenaran, melainkan menghindar dari peluang bangkit dan berkobarnya suasana permusuhan, berpalinglah dan carilah topik bahasan yang lebih mempersatukan. Tentu saja bukan tidak boleh mengadakan diskusi pemecahan masalah, namun harus didasari kesiapan mental yang baik, kesiapan ilmu yang memadai, dan kesiapan mendengar serta berbicara yang baik pula, Insya Allah akan datang petunjuk Allah dalam mencari kebenaran.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Hikmah Dibalik Silaturrahmi.

Rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturrahmi sudah terputus diantara kita. Rasulullah SAW bersabda; "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan."

Seorang sahabat yang bernama Abu Afwa pernah berkisah. Ketika itu, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba Beliau bersabda; "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturrahmi." Setelah itu seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah beberapa lama ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia pun segera meminta maaf kepada bibinya, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali kemajelis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

Saudaraku, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang jika dihati kita masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang kecil dalam masyarakat. Bila didalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi jikalau dibelakang sudah saling mencaci, menfitnah, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala luas, dalam lingkup sebuah negara. Bila didalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini kita bisa pahami kenapa Rasulullah tidak menoleransi sekecil apa pun berbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda; "Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, memata-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasut, saling membenci, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, silaturrahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya tali silaturrahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimanapun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih dilautan yang mudah diombang-ambingkan gelombang, bila didalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah SWT.

Jumat, 24 Oktober 2008

Penyesalan Yang Tak Berguna.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

"Atau supaya jangan ada orang yang berkata ketika melihat azab; 'Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat baik.' Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir." (QS. Az-Zumar: 58-59).

Bila kita mengingat betapa singkatnya jatah hidup yang diberikan Allah SWT kepada kita. Mulai dari alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dan seterurnya. Maka betapa sangat rugi jika kita masih terus terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, sementara usia yang terbatas ini terus berjalan tanpa ada kesempatan untuk mengulang kembali. Firman Allah SWT diatas menjelaskan, bahwa diakhirat nanti, ada manusia yang baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka setelah mereka melihat azab dengan mata kepalanya sendiri.

Ketika itulah mereka menyesal dan memohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan memperbaiki diri. Mereka berkata; "Lau anna karratan faa kunna minal muhsinin= Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat kebaikan." Tetapi, Allah SWT dengan tegas mengatakan; "Bala, qad ja'aatka aayaatiy fakazzabta biha wastakbar ta wa kunta minal kaafirin= Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir." Dalam ayat lain dijelaskan, setelah azab didepan mata barulah mereka menyesal dan berkata; "Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan." (QS. Yaasin: 22).

Penyesalan yang tak berguna, sekarang inilah kesempatan yang paling baik untuk beriman dan beramal shaleh. Sebab, jika jiwa sudah berpisah dengan raga, maka tidak ada lagi kesempatan untuk hidup kembali guna memperbaiki diri. Allah SWT dengan sifat kasih dan sayang-Nya, selalu berupaya mengingatkan agar kita sadar bahwa dunia ini fana, dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Salah satu bentuk Maha Kasih dan Maha Sayang Allah yang diberikan kepada kita hamba-hamba-Nya, adalah tentang apa saja yang akan kita alami dikehidupan akhirat. Dengan adanya berita-berita itu, maka kita hendaklah berhati-hati agar tidak terjebak memperturutkan hawa nafsu, mengikuti bujuk rayu syaitan. Firman Allah SWT: "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syetan. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, Inilah jalan yang lurus." (QS. Yaasin: 60-61)

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita, agar kita mempunyai kesempatan, tetapi kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia, dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya memberikan kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, dan tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada di sebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendampingi dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasan yeng lebih canggih dan akurat selain dari pengawasan malaikat. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yaasin: 12)

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya, tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak dapat ditambah juga tidak dapat diulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu dengan menjalani kehidupan tersebut diatas jalan hidup yang benar, seperti selalu yang kita pinta "Ihdinas shirathal mustaqiim."

Penyesalan Yang Tak Berguna (Bagian 2).

Allah SWT berfirman; "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syaitan. Sengguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus." (QS. Yassin).

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita agar kita mempunyai kesempatan. Tetapi, kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia. Dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Firman Allah SWT; "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi mereka kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, juga tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada disebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendamping dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasang yang lebih canggih dan akurat selain dari pengawasan malaikat. Firman Allah SWT; "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yaasin: 12).

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sebab, jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya. Tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak dapat ditambah juga tidak dapat diulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu menjalani kehidupan ini diatas jalan yang benar, seperti yang selalu kita pinta "Ihdinas sirathal mustaqim."