5

5

Sabtu, 25 Oktober 2008

Hikmah Dibalik Silaturrahmi.

Rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturrahmi sudah terputus diantara kita. Rasulullah SAW bersabda; "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan."

Seorang sahabat yang bernama Abu Afwa pernah berkisah. Ketika itu, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba Beliau bersabda; "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturrahmi." Setelah itu seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah beberapa lama ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia pun segera meminta maaf kepada bibinya, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali kemajelis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

Saudaraku, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang jika dihati kita masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang kecil dalam masyarakat. Bila didalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi jikalau dibelakang sudah saling mencaci, menfitnah, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala luas, dalam lingkup sebuah negara. Bila didalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini kita bisa pahami kenapa Rasulullah tidak menoleransi sekecil apa pun berbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda; "Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, memata-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasut, saling membenci, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, silaturrahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya tali silaturrahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimanapun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih dilautan yang mudah diombang-ambingkan gelombang, bila didalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah SWT.

Jumat, 24 Oktober 2008

Penyesalan Yang Tak Berguna.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

"Atau supaya jangan ada orang yang berkata ketika melihat azab; 'Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat baik.' Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir." (QS. Az-Zumar: 58-59).

Bila kita mengingat betapa singkatnya jatah hidup yang diberikan Allah SWT kepada kita. Mulai dari alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dan seterurnya. Maka betapa sangat rugi jika kita masih terus terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, sementara usia yang terbatas ini terus berjalan tanpa ada kesempatan untuk mengulang kembali. Firman Allah SWT diatas menjelaskan, bahwa diakhirat nanti, ada manusia yang baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka setelah mereka melihat azab dengan mata kepalanya sendiri.

Ketika itulah mereka menyesal dan memohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan memperbaiki diri. Mereka berkata; "Lau anna karratan faa kunna minal muhsinin= Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat kebaikan." Tetapi, Allah SWT dengan tegas mengatakan; "Bala, qad ja'aatka aayaatiy fakazzabta biha wastakbar ta wa kunta minal kaafirin= Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir." Dalam ayat lain dijelaskan, setelah azab didepan mata barulah mereka menyesal dan berkata; "Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan." (QS. Yaasin: 22).

Penyesalan yang tak berguna, sekarang inilah kesempatan yang paling baik untuk beriman dan beramal shaleh. Sebab, jika jiwa sudah berpisah dengan raga, maka tidak ada lagi kesempatan untuk hidup kembali guna memperbaiki diri. Allah SWT dengan sifat kasih dan sayang-Nya, selalu berupaya mengingatkan agar kita sadar bahwa dunia ini fana, dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Salah satu bentuk Maha Kasih dan Maha Sayang Allah yang diberikan kepada kita hamba-hamba-Nya, adalah tentang apa saja yang akan kita alami dikehidupan akhirat. Dengan adanya berita-berita itu, maka kita hendaklah berhati-hati agar tidak terjebak memperturutkan hawa nafsu, mengikuti bujuk rayu syaitan. Firman Allah SWT: "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syetan. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, Inilah jalan yang lurus." (QS. Yaasin: 60-61)

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita, agar kita mempunyai kesempatan, tetapi kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia, dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya memberikan kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, dan tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada di sebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendampingi dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasan yeng lebih canggih dan akurat selain dari pengawasan malaikat. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yaasin: 12)

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya, tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak dapat ditambah juga tidak dapat diulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu dengan menjalani kehidupan tersebut diatas jalan hidup yang benar, seperti selalu yang kita pinta "Ihdinas shirathal mustaqiim."

Penyesalan Yang Tak Berguna (Bagian 2).

Allah SWT berfirman; "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syaitan. Sengguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus." (QS. Yassin).

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita agar kita mempunyai kesempatan. Tetapi, kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia. Dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Firman Allah SWT; "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi mereka kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, juga tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada disebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendamping dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasang yang lebih canggih dan akurat selain dari pengawasan malaikat. Firman Allah SWT; "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yaasin: 12).

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sebab, jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya. Tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak dapat ditambah juga tidak dapat diulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu menjalani kehidupan ini diatas jalan yang benar, seperti yang selalu kita pinta "Ihdinas sirathal mustaqim."

Selasa, 14 Oktober 2008

IV. Kejadiaannya Malaikat Maut (2/2).

<-- sebelum.

Ada pun Allah SWT menjadikan dunia dengan satu bentuk.

Dunia: "Wahai orang yang maksiat adakah kamu tidak malu kepadaku? Kamu berbuat dosa di dunia, dan kamu tidak mencegah dirimu dari kemaksiatan. Sesungguhnya kamu membutuhkan aku, tapi aku tidak membutuhkan kamu. Kamu tidak mau membedakan yang halal dan yang haram. Kamu beranggapan tidak akan meninggalkan dunia. Sesungguhnya aku bebar dari kamu dan dari amalanmu."

Orang itu melihat hartanya sudah berada dan sudah menjadi milik orang lain.

Harta: "Wahai orang-orang yang maksiat, kamu mencari aku tanpa hak dan kamu tidak membelanjakan aku serta tidak menyedekahkan aku kepada fakir miskin. Pada hari ini telah tiba menjadi milik orang lain dari kamu.

Demikianlah sebagaimana firman Allah SWT: "(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. As-Syu'ara: 88-89)

Orang-orang berkata, sebagaimana firman Allah SWT: "Dia berkata;"Ya Tuhan ku kembalikanlah aku (kedunia) *). Agar aku berbuat amal shaleh dalam hal yang telah aku lalaikan." (QS. Al-Mu'minuun: 99-100)

Allah SWT berfirman: "Apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya." (QS. Yunus: 49)

Kemudian ia mencabut nyawa seorang. Jika ia orang mukmin, maka ia dalam kebahagiaan. Dan jika ia kafir ataupun munafik, pasti dalam kecelakaan.

Keterangan:
*) Maksudnya: Orang-orang kafir di waktu menghadapi sakaratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.

IV. Kejadiaannya Malaikat Maut (1/2).

Disebutkan dalam suatu riwayat. Dikala malaikat maut dijadikan Allah SWT, ia diberi tabir dari para makhluk dengan beribu-ribu tabir yang lebih besar dari seluruh langit dan bumi. Andai kata seluruh air lautan dan sungai-sungai di tuangkang pada kepalananya, niscaya tak akan jatuh barang setetespun dari air itu pada bumi. Ada pun arah timur sampai arah baratnya bumi, adalah diantara kedua tangannya, seperti meja yang diatasnya diletakkan sesuatu dan diletakkan pada kedua tangan seseorang untuk memakannya, maka ia memakan apa yang dikehendaki.

Begitu pula malaikat maut membalikkan dunia, seperti halnya manusia membalikkan dirhamnya diantara kedua tangannya. Ia diikat dengan rantai, yang panjangnya dapat ditempuh perjalanan seribu tahun. Para malaikat tidak akan mendekatinya, mereka tidak akan mengetahui tempatnya, mereka tidak akan mendengar suaranya dan mereka tidak dapat mengitari seluruh keadaaannya dan ia tak tergantung situasi.

Apabila Allah SWT menjadikan mati dan Dia memerintahkan kepadanya, maka ia berkata; "Wahai Tuhanku, apakah mati itu?." Maka Allah SWT memerintahkan hijab-hijab untuk membuka, sehingga malaikat maut melihatnya. Kemudian Allah SWT menyerukan kepada para malaikat; "Berdirilah dan lihatlah kalian, ini adalah maut." Maka mereka seluruhnya sama berdiri. Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya; "Terbanglah kepada mereka dan kembangkanlah sayapmu, bukalah kedua matamu." Setelah ia terbang, maka malaikat melihat maut, seketika mereka terpelanting dan pingsan. Setelah mereka sadar seraya berkata; "Wahai Tuhan kami, adakah Engkau menjadikan makhluk yang lebih besar daripada makhluk ini?." Allah SWT menjawab; "Aku menjadikannya, dan Aku lebih besar daripada maut. Dan setiap makhluk pasti akan merasakannya."

Allah SWT berfirman; "Wahai Izrail, ambillah itu, Aku memerintahkan kamu mengambil maut." Izrail menjawab; "Wahai Tuhanku, dengan kekuatan apakah aku mengambilnya?, padahal ia lebih besar daripada aku." Maka Allah SWT mengizinkan kepadanya, dan ia pun menyeru dengan suara keras:

- Akulah maut, yang memisahkan antara seluruh kekasih.

- Akulah maut yang memisahkan suami istri.

- Akulah maut, yang memisahkan antara anak-anak dan ibu.

- Akulah maut yang memisahkan antara saudara laki-laki dan perempuan.

- Akulah maut yang merusak rumah dan gedung-gedung.

- Akulah maut yang meramaikan kubur-kubur.

- Akulah maut yang akan mencari dan menjumpai kamu semua walaupun kalian berada dalam gedung-gedung tinggi. Dan makhluk tidak akan kekal kecuali akan merasakan aku.

Ada pun bagi orang kafir, munafik dan orang yang celaka, apabila maut mendatangi mereka maka turunlah malaikat azab dari arah kirinya dengan wajah yang hitam dan mata yang melotot. Para malaikat itu sama mengenakan pakaian azab. Mereka duduk menjauh dari orang-orang itu, sehingga datanglah malaikat maut. Jika malaikat maut mendatangi salah seorang dari mereka maka ia berdiri di mukanya dengan bentuk rupa yang menakutkan.

Kemudian jiwa seseorang itu berkata: "Siapakah kamu? Dan akan apa kamu?"

Malaikat maut: "Aku adalah malaikat maut yang mengeluarkan kamu dari dunia dan menjadikan anakmu menjadi yatim, istrimu menjadi janda, hartamu menjadi warisan di antara para ahli warismu yang kamu tidak cinta kepada mereka di kala hidup. Dan kamu tidak berbuat baik untuk dirimu dan tidak pula untuk ke akhiratan mu. Maka pada hari ini aku mendatangi kamu untuk mencabut nyawa mu."

Oleh karenanya jika ia mendengar suara malaikat tadi, ia tentu memalingkan kepalanya ke arah lain, tapi ia melihat malaikat maut sudah berdiri di mukanya.

Malaikat maut: "Adakah engkau tidak mengerti aku? Aku adalah malaikat maut yang telah mencabut nyawa ke dua orang tua mu. Dan kamu melihat keduanya, tapi kamu tidak memperoleh kemanfaatan dari keduanya. Pada hari ini aku mencabut nyawamu sehingga kamu melihat anak-anakmu, kerabatmu, dan teman-temanmu, sehingga mereka memperoleh nasehat dari kamu pada hari ini. Aku adalah malaikat maut yang telah merusak orang-orang di abad yang lalu dari orang yang lebih banyak kekuatannya dari padamu, lebih kaya harta dari kamu, lebih banyak anak dari pada anak-anakmu."

Malaikat maut: "Bagaimana kamu melihat dunia?"

Orang: "Aku melihatnya membujuk dan mengingkari janji."

Ada pun Allah SWT menjadikan dunia dengan satu bentuk.

Dunia: "Wahai orang yang maksiat, adakah kamu tidak malu kepadaku? Kamu berbuat dosa di dunia, dan kamu tidak mencegah dirimu dari kemaksiatan.

Sabtu, 04 Oktober 2008

Hikmah Idul Fitri.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, bulan suci yang melatih dan mendidik kita dalam mengendalikan hawa nafsu, bulan yang membersihkan diri kita dari segala dosa dan kemaksiatan. Semoga puasa dan amal ibadah yang kita kerjakan dibulan Ramadhan diterima Allah SWT, serta memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita, yaitu mengembalikan kita kepada fitrah, suci bersih dari segala dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; "Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah didalamnya karena iman dan mencari ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskannya dari segala dosa-dosanya sehingga dia kembali suci bersih seperti bayi yang baru dilahirkan." (HR. Ahmad).

Begitu matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan, kegembiraan dan kebahagiaan menyambut hari kemenangan datang begitu luar biasa kepada kaum muslimin dan muslimah, terutama mereka yang dapat menyelesaikan puasanya dengan baik. Takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang, bersahut-sahutan membahana seakan membelah langit dunia. Dikota-kota besar hingga ke desa-desa terpencil, kaum muslimin dan muslimah memadati masjid-masjid dan surau-surau semua merayakan hari kemengangan. Kaum muslimin dan muslimah bersyukur kepada Allah SWT, karena baru saja menyelesaikan ibadah puasa, ibadah yang mengandung nilai-nilai pendidikan dalam mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu, ibadah yang membentuk jiwa kita teguh dan kuat dalam membentuk watak disiplin. Betapa haru dan syahduhnya hati kita saat ini, karena kita merasakan Allah SWT begitu dekat dengan kita sehingga tanpa terasa membuat kita meneteskan airmata. Airmata kemenangan juga keharuan karena berpisah dengan Ramadhan yang mungkin tahun depan belum tentu akan kita jumpai lagi. Seperti inilah yang selalu dialami Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat dekat Beliau tatkala menyambut Idul Fitri dan berpisah dengan Ramadhan.


Marilah kita syukuri hari kemenangan ini bukan dengan berpesta pora, dan bukan pula membuang-buang nikmat Tuhan secara sia-sia dan mubazir. Semoga kita tidak termasuk orang yang terjebak dalam pesta sesaat dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penampilan-penampilan zahiriyah yang penuh dengan kemewahan dan glamour, sebab penampilan yang demikian justru akan menghilangkan makna Idul Fitri tersebut. Sebagaimana di ungkap oleh Ibnu Qoyyim: "Bukanlah hari raya itu bagi orang yang berpakaian serba baru, akan tetapi hari raya itu adalah milik orang yang bertambah iman dan ketaatannya."

Penampilan mewah pada Idul Fitri, justru akan semakin melukai perasaan kaum dhuafa (orang lemah), para fakir miskin dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini, marilah kita distribusikan kelebihan rizki yang kita miliki, kita bagi kebahagiaan ini kepada yang memerlukan. Kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurangan. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat di hati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi ini sering kali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dengan tidak ada kepedulian soal terhadap fakir miskin, kaum dhu'afa, dan yatim piatu. Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya dalam pandangan sesamanya, karena munculnya kepedulian terhadap fakir miskin, kaum dhu'afa, dan yatim piatu dengan memberikan haknya berupa zakat, infaq, dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.

Sebagai penutup, saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan; "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal Aidin Walfa'idzin, mohon maaf lahir dan bathin."

Kejadian Adam.

Beliau adalah manusia yang pertama diciptakan Allah SWT, beliau dijadikan dari tanah dengan bentuk dan rupa manusia, lalu ditiupkan ruh kedalamnya. Kalamullah dalam Al-Qur'an: "Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al-Hijr: 26)

Oleh karena itu, Adam adalah asal mula bapak seluruh manusia. Sebelum Allah menciptakan Adam, terlebih dahulu Allah menjadikan bangsa jin dari api yang sangat panas. Firman Allah SWT: "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al-Hijr: 27)

Setelah Allah SWT menjadikan Adam dengan sebaik-baik bentuk dan rupanya, maka isi surga (malaikat) sama bersujud kepadanya kecuali iblis, mereka semua bersujud kepada Adam atas perintah Allah dan menghormatinya, hanya iblis sajalah yang tetap membangkang. Kalamullah dalam Al-Qur'an: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat; "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali iblis." (QS. Al-Baqarah: 34)

Setelah Adam dijadikan Allah SWT, lantas beliau ditempatkan Allah di dalam surga dikala itu, kemudian Allah menciptakan Hawa sebagai jodohnya.

Diterangkan pula bahwa sewaktu Allah akan meniupkan ruhnya Adam, Allah memerintahkan ruh masuk ke dalam tubuh Adam. Disebutkan pula masuknya ruh adalah dari otaknya, lalu ruh itu berputar-putar selama dua ratus tahun. Kemudian ruh itu turun pada ke dua matanya, lantas ia melihat pada dirinya, selanjutnya ia melihat lempung yang kering. Dan setelah sampai pada ke dua telinganya, lalu ia mendengar tasbihnya malaikat. Kemudian turun pada hidungnya sehingga ia bersin, setelah bersin ruh turun kemulutnya, maka Allah mengajarkan kepada Adam supaya mengucapkan: "ALHAMDULILLAH" lalu Allah menjawabnya: "YARHAMUKA RABBUKA YA ADAM." Lalu ruh turun ke dadanya dan Adam tergesa-gesa ingin berdiri tapi tidak kuasa. Dan itulah sebagaimana firman Allah SWT: "Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Isra': 11)

Setelah ruh sampai pada perutnya, lalu Adam menginginkan makanan. Kemudian ruh menjadi rata dalam seluruh tubuh Adam, dan menjadilah daging, darah, kulit dan otot. Lalu Allah SWT memakaikan kuku, dimana setiap hari bertambah dengan kebaikan dan keindahan. Maka apabila dosa, Allah mengganti kuku itu dengan kulit, dan tetaplah kuku itu pada jari-jari agar ia ingat tentang hal itu dari asal mula terjadinya.

Kemudian Allah SWT menyempurnakan kejadian Adam, dan memberi pakaian dari pakaian surga dan Cahaya Muhammad yang menerangi wajahnya bagaikan bulan dimalam purnama. Lalu di angkat diatas ranjang dan dipikul pada leher para malaikat, dan Allah SWT menyerukan kepada mereka: "Bertawaflah kamu semua dengan Adam keseluruh langit dengan ranjangnya agar ia menyaksikan keajaiban dan apa saja yang berada di dalamnya." Maka bertambahlah keyakinan Adam, dan berkatalah para malaikat: "RABBANA SAMI'NAA WA ATHA'NA = Wahai Tuhan kami, kami memperhatikan dan mentaati."

Para malaikat terus membawa Adam pada leher-leher mereka, mereka sama mengelilingi langit-langit kurang lebih seratus tahun. Kemudian Allah SWT membuatkan kuda untuk Adam dari misik yang putih yang baunya semerbak mewangi, kuda itu di sebut kuda Maimun, ia mempunyai dua sayap dari intan dan marjan. Lalu Adam menaikinya dan Jibril yang memegang kendalinya, Mikail di sebelah kanannya dan Israfil di sebelah kirinya. Mereka beserta Adam terus mengelilingi langit dan ia memberikan salam kepada para malaikat malaikat dengan ucapan: "ASSALAMU'ALAIKUM," mereka menjawab: "WA'ALAIKUM SALAM." Kemudian Allah SWT berkata: "Wahai Adam, inilah penghormatanmu dan penghormatan para mu'minin dari anak turunanmu diantara mereka semua di hari kiamat kelak."

Rabu, 01 Oktober 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H.

Asalamu'alaikum.. Wr.. Wb..

Saya Muhammad Ridwan (iwandj0709) mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfa'idzin, mohon maaf lahir dan batin.